Oct 23 2017

Sejarah Berdiri VOC dan Perkembangannya Lengkap !!

Sejarah Berdiri VOC dan Perkembangannya Lengkap !!

Gambar : (Museum Fatahillah Jakarta Tempo Doeloe)

Mengakujenius.com – Pernahkah anda mengunjungi museum Fatahillah jakarta? Museum Fatahillah biasa disebut sebagai Museum Sejarah Jakarta. Museum tersebut termasuk bangunan yang sangat megah yang di bangun kala itu di Jakarta. Gedung yang sekarang terletak di Jalan Taman fatahillah mulai di bangun pada tahun 1620 atas perintah gubernur Jan Pieter Zoen Coen. Gedung ini kemudian dikenal dengan Staduis atau Balai Kota yang merupakan salah satu bangunan tertua di Batavia yang dulunya digunakan sebagai kantor Gubernur Jenderal VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Gedung tersebut digunakan sebagai sentral untuk membangun kedigdayaan VOC kala itu. Tempat dimana VOC membangun keabsolutan dan kesewenang-wenangan monopoli perdagangan serta intervensi politik VOC dinusantara. Yang kemudian di lanjutkan oleh pemerintahan Hindia Belanda setelah VOC di buabrkan.

Pengertian VOC

VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) adalah kongsi dagang yang berasal dari Negara Belanda  yang memonopoli aktivitas perdagangan dan intervensi aktivitas politik di wilayah nusantara dan Asia. VOC didirikan pada tanggal 20 Maret 1602.

Dengan segala kelicikannya, VOC selalu mempengaruhi keputusan-keuputusan politik dimana ia berada. Untuk memperkuat posisinya di dunia timur seperti nusntara, VOC membuat persekutuan dagang bersama. Sehingga pada saat itu eksistensi mereka di bumi nusantara begitu kokoh dan sulit digoyahkan. Mereka seperti membentuk pemerintahan negara di dalam suatu negara.. Nah, setelah mengetahui mengenai pengertian VOC, kali ini mimin akan megajak anda bersama-sama memperdalam wawasan kita mengenai Sejarah Berdirinya VOC di bumi Nuantara.

Sejarah Berdiri VOC di Nusantara

Kedatangan orang-orang barat (Eropa) ke belahan bumi bagian timur adalah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya serta kejayaan. Kejayaan yang mereka maksudkan pada saat itu adalah ketika orang-orang barat berhasil menemukan sesuatu yang sangat berharga daripada emas dan berlian, yaitu rempah-rempah. Nah, dengan demikian akan semakin banyak orang-orang barat yang tertarik datang di Nusantara. Mereka saling berinteraksi dan bersaing dalam mendapatkan keutungan berdagang.

Para pengusaha atau perusahaan dagang Portugis bersaing ketat dengan para pedagang Belanda, bersaing dengan para pedagang Spanyol, bersaing dengan para pedagang Inggris, dan negara-negara barat lainnya. Bahkan tidak hanya antarbangsa, antarkelompok atau kongsi dagang, dalam satu bangsapun mereka saling bersaing. Oleh karena itu, untuk memperkuat posisinya di dunia timur masing-masing kongsi dagang dari suatu negara membentuk persekutuan dagang bersama. Sebagai contoh seperti pada tahun 1600 Inggris membentuk suatu kongsi dagang yang diberi nama East India Company (EIC). Kongsi dagang EIC ini kantor pusatnya berkedudukan di Kalkuta, India. Dari Kalkuta ini kekuatan dan setiap kebijakan Ingris di dunia timur, dikendalikan. Pada tahun 1811 kedudukan Inggris begitu kuat dan meluas bahkan pernah berhasil menempatkan kekuasaannya di wilayah Nusantara.

Selain itu persaingan yang cukup keras juga terjadi di antarperusahaan dagang orang-orang Belanda sendiri. Masing-masing ingin memenangkan kelompoknya agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Kenyataan ini mendapat perhatian khusus dari pihak pemerintah dan parlemen Belanda, sebab persaingan antar kongsi Belanda juga mengalami kerugian bagi Kerajaan Belanda itu sendiri. Terkait dengan hal tersebut, maka pemerintah dan parlemen Belanda (Staten General) Pada 1598 mengusulkan supaya antar kogsi dagang belanda bekerja sama untuk membentuk sebuah perusahaann dagang yang lebih besar yang dapat menguasai setipa daerah-daerah potensial yang berada di wilayah Nusantara. Usulan tersebut baru dapata terealisasi setelah empat tahun berikutnya, yakni pada 20 Maret 1602 secara resmi dibentuklah persekutuan kongsi dagang Belanda di Nusantara sebagai hasil fusi antarkongsi yang telah ada. Kongsi dagang Belanda ini diberi nama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) atau biasa disebut dengan “Perserikatan Maskapai Perdagangan Hindia Timur/Kongsi Dagang India Timur”. VOC secara resmi didirikan di Amsterdam. Adapun tujuan dibentuknya VOC ini antara lain ;

  1. Untukmenghindari persaingan yang tidak sehat antara sesama kelompok/kongsi pedagang Belanda yang telah
    ada,
  2. Untukmemperkuat kedudukan Belanda dalam menghadapi persaingan
    dengan para pedagang negara lain.

7 Hak dan Kewenangan VOC

Pada mula pemerintahannya VOC dipimpin oleh sebuah dewan yang memiliki anggota 17 orang, sehingga disebut “Dewan Tujuh Belas” (de Heeren XVII). Mereka terdiri dari delapan perwakilan kota pelabuhan dagang di Belanda. Markas Besar Dewan ini berkedudukan di Amsterdam, Belanda. Dalam menjalankan tugas, VOC ini memiliki
beberapa kewenangan dan hak-hak istimewa antara lain.

  1. Berwewenang untuk memonopoli perdagangan di wilayah Tanjung Harapan hingga Selat Magelaens (ujung selatan benua Amerika) , dan termasuk kepulauan Nusantara.
  2. Berwewenang untuk membentuk angkatan perang sendiri.
  3. Berwewenang untuk melakukan peperangan.
  4. Mengadakan perjanjian dengan raja-raja setempat.
  5. Mencetak dan mengeluarkan mata uang sendiri.
  6. Mengangkat dan mencopot pegawai sendiri.
  7. Membangun dan memerintah di negeri jajahan.

VOC Sebagai sebuah kongsi dagang, dengan kewenangan dan hak-hak tersebut, menunjukkan bahwa VOC memiliki hak-hak istimewa dan kewenangan yang sangat luas bahkan melebihi wewenang lebih luas dari pemerintah lokal. VOC sebagai kongsi dagang bagaikan negara dalam negara. Dengan memiliki hak untuk membentuk angkatan perang sendiri dan boleh melakukan peperangan, maka VOC cenderung ekspansif. VOC terus berusaha
memperluas daerah-daerah di Nusantara sebagai wilayah kekuasaan dan monopolinya. VOC juga memandang bangsa-bangsa Eropa yang lain sebagai musuhnya yang harus ditaklukan dalam persaingan. Mengawali ekspansinya tahun 1605 VOC telah berhasil mengusir Portugis dari Ambon. Benteng pertahanan Portugis di Ambon dapat diduduki
tentara VOC. Benteng itu kemudian oleh VOC diberi nama Benteng Victoria.

(Gambar : Benteng Victoria, Ambon, Maluku)

Pada mula pertumbuhannya hingga tahun 1610, “Dewan Tujuh Belas” secara langsung harus menjalankan tugas-tugas dan menyelesaikan berbagai urusan yang terkait dengan VOC, termasuk urusan ekspansi untuk perluasan wilayah monopoli di berbagai wiayah Nusantara. Sungguh hal yang diluar batas anggapan para penduduk lokal kala itu “Dewan Tujuh Belas” yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda mengurus wilayah yang ada di Kepulauan Nusantara. Sudah barang tentu “Dewan Tujuh Belas” tidak dapat menjalankan tugas sehari-hari secara cepat dan efektif. Sementara itu persaingan dan permusuhan dengan bangsa-bangsa barat lainnya juga semakin keras dan semakin ketat. Berangkat dari permasalahan tersebut maka pada tahun 1610 secara kelembagaan diciptakan jabatan
baru dalam organisasi VOC, yakni jabatan gubernur jenderal.

Gubernur jenderal yang terpilih merupakan jabatan tertinggi yang bertugas mengendalikan kekuasaan di negeri jajahan VOC dimana ia berada. Di samping itu juga dibentuk “Dewan Hindia” (Raad van Indie). Tugas “Dewan Hindia” ini adalah memberi nasihat dan mengawasi kepemimpinan gubernur jenderal. Gubernur jenderal VOC yang pertama adalah Pieter Both yang menjabat dari tahun (1610-1614). Sebagai gubernur jenderal yang pertama, Pieter Both sudah tentu harus mulai menata organisasi kongsi dagang ini sebaik-baiknya supaya harapan-harapan mereka untuk mendapatkan dan memonopoli perdagangan di Hindia Timur dapat diwujudkan. Pieter Both pertama kali mendirikan pos perdagangan di Banten pada tahun 1610. Pada tahun itu juga Pieter Both meninggalkan Banten dan berhasil memasuki Jayakarta (Batavia).


Gambar ; (Pieter Both)

Penguasa Jayakarta waktu itu, Pangeran Wijayakrama sangat terbuka dalam hal perdagangan. Pedagang dari mana saja bebas berdagang, di samping dari Nusantara juga dari luar seperti dari Portugis, Inggris, Gujarat/India, Persia, Arab, termasuk juga Belanda. Dengan demikian Jayakarta dengan pelabuhannya Sunda. Kelapa menjadi kota dagang yang sangat ramai dan terbesar kala itu. Kemudian pada tahun 1611, setahun setelahnya Pieter Both berhasil mengadakan perjanjian dengan penguasa wilayah Jayakarta, guna pembelian sebidang tanah seluas 50×50 vadem ( satu vadem sama dengan 182 cm) yang berlokasi di sebelah timur Muara Ciliwung. Tanah inilah yang menjadi cikal bakal hunian dan daerah kekuasaan VOC di tanah Jawa dan menjadi cikal bakal Kota Batavia. Di lokasi ini kemudian didirikan bangunan batu berlantai dua sebagai tempat tinggal, kantor dan sekaligus gudang. Pieter Both juga berhasil mengadakan perjanjian dan menanamkan pengaruhnya di Maluku dan berhasil mendirikan pos perdagangan di wilayah Ambon dan sekitarnya.

Perkembangan VOC di Wilayah Nusantara

Pada tahun 1614 masa jabatan Pieter Both telah usai yang kemudian digantikan oleh Gubernur Jenderal Gerard Reynst yang menjabat dari tahun (1614-1615). Baru berjalan satu tahun ia digantikan gubernur jenderal yang baru yakni Laurens Reael (1615-1619). Pada masa jabatan Laurens Reael ini berhasil dibangun Gedung Mauritius yang berlokasi di tepi Sungai Ciliwung. Orang-orang Belanda yang tergabung dalam VOC itu memang cerdik dan pandai dalam melakukan tipu muslihat terhadap rakyat pribumi.

Pada awalnya mereka bersikap baik dengan rakyat. Hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara juga berjalan lancar. Bahkan seperti telah djelaskan di atas, orang-orang Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Both diizinkan oleh Pangeran Wijayakrama untuk membangun tempat tinggal dan bangunan-bangunan di wilayah Jayakarta. Kemudian sikap baik rakyat pribumi dan para penguasa setempat ini dimanfaatkan oleh VOC untuk semakin memperkuat kedudukannya di Nusantara. Lama kelamaan orang-orang Belanda mulai menampakkan sikap congkak, dan sombong.

Setelah merasakan nikmatnya tinggal di Nusantara dan menikmati keuntungannya yang melimpah dalam berdagang, Belanda semakin bernafsu ingin menguasai dan kadang-kadang melakukan paksaan dan kekerasan. Hal ini telah menimbulkan kebencian rakyat dan para penguasa lokal. Oleh karena itu, pada tahun 1618 Sultan Banten yang dibantu tentara Inggris di bawah Laksamana Thomas Dale berhasil mengusir VOC dari Jayakarta. Orang-orang VOC kemudian menyingkir ke Maluku. Setelah VOC hengkang dari Jayakarta pasukan Banten pada awal tahun 1619 juga mengusir Inggris dari Jayakarta. Dengan demikian Jayakarta sepenuhnya dapat dikendalikan oleh Kesultanan Banten, sehingga tidak lagi ada VOC dan sekutu-sekutunya di wilayah Jayakarta dan Banten.

Tahun 1619 Gubernur Jenderal VOC Laurens Reael telah habis jabatannya dan kemudian digantikan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen (J.P. Coen). J.P. Coen dikenal gubernur jenderal yang berani dan kejam serta ambisius. Oleh karena itu, merasa bangsanya dipermalukan pasukan Banten dan Inggris di Jayakarta, maka J.P. Coen mempersiapkan pasukan untuk menyerang Jayakarta dan menguasainya kembali. Armada angkatan laut dengan 18 kapal perangnya mengepung Jayakarta dan sekitarnya. Ternyata dalam waktu singkat Jayakarta dapat diduduki VOC. Kota Jayakarta kemudian kembali dibumihanguskan oleh J.P. Coen pada tanggal 30 Mei 1619. Di atas puing-puing
kota Jayakarta itulah dibangun kota baru bergaya kota dan bangunan seperti di Belanda. Kota baru tersebut dinamakan Batavia sebagai pengganti nama Jayakarta.

Gambar : Jenderal Jan Pieterzoon Coen (J.P. Coen)

Jenderal J.P. Coen adalah gubernur jenderal yang sangat bernafsu untuk memaksakan berbagai macam bentuk monopoli. Ia juga dikenal sebagai peletak dasar penjajahan VOC di Indonesia. Disertai dengan sikap congkak dan tindakan-tindakan yang kejam dan biadab, J.P.Coen berusaha meningkatkan eksploitasi kekayaan bumi Nusantara untuk kepentingan mereka sendiri. Cara-cara VOC untuk meningkatkan eksploitasi kekayaan alam dilakukan antara lain;

  1. Merebut pasaran produksi pertanian, biasanya dengan memaksakan monopoli, seperti monopoli rempah-rempah di Maluku dan di beebrapa wilayah nusantara lainnya.
  2. Tidak ikut aktif secara langsung dalam kegiatan produksi hasil pertanian.
    Cara memproduksi hasil pertanian dibiarkan berada di tangan kaum
    Pribumi, tetapi yang penting VOC dapat memperoleh hasil-hasil
    pertanian itu dengan mudah, sekalipun harus dengan paksaan.
  3. VOC sementara cukup menduduki tempat-tempat yang strategis.
  4. VOC melakukan campur tangan terhadap kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama menyangkut usaha pengumpulan hasil bumi dan pelaksanaan monopoli. Dalam kaitan ini VOC memiliki daya tawar yang kuat, sehingga dapat menentukan harga pasar pada umumnya.
  5. Lembaga-lembaga pemerintahan tradisional/kerajaan lokal masih tetap dipertahankan dengan harapan bisa dipengaruhi, jika tidak bersedia barulah akan diperangi.

Setelah berhasil membangun Batavia dan meletakkan dasar-dasar penjajahan di Nusantara, pada tahun 1623 J.P. Coen kembali ke negari Belanda. Ia menyerahkan kekuasaannya kepada Pieter de Carpentier. Tetapi oleh
pimpinan VOC di Belanda, J.P. Coen diminta kembali ke Batavia. Akhirnya pada tahun 1627 J.P. Coen tiba di Batavia dan diangkat kembali sebagai Gubernur Jenderal untuk jabatan yang kedua kalinya. Pada masa jabatan yang kedua inilah terjadi berbagai serangan dari tentara Mataram di bawah Sultan Agung ke Batavia.

Batavia merupakan tempat yang selalu memiliki posisi yang strategis bagi VOC dan sekutu-sekutunya. Semua kebijakan dan tindakan VOC di kawasan Asia dikendalikan dari markas besar VOC di Batavia (jakarta). Di samping itu Batavia juga terletak pada persimpangan yang sangat strategis atau menjadi penghubung jalur perdagangan internasional yang sangat ramai dan sibuk. Batavia menghubungkan perdagangan di Nusantara bagian barat dengan Malaka, India, kemudian juga menghubungkan dengan Nusantara bagian timur. Apalagi Nusantara bagian timur ini menjadi daerah penghasil rempah-rempah yang utama, maka posisi Batavia yang berada di tengah-tengah itu menjadi semakin strategis dalam perdagangan rempah-rempah.

Nah, dari berbagai pemaparan di atas kita dapat memahami mengenai sejarah berdirinya VOC di wilayah Nusantara dan sekitarnya, dan Asia pada umumnya. Demikianlah Sejarah Berdiri VOC dan Perkembangannya Lengkap !!. Sekian yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini semoga dapat membantu anda dalam memberikan informasi yang bermanfaat. Jangan lupa share ya guys.

Leave a Reply

Your email address will not be published.