5 Contoh Puisi Satire dan Pengertiannya Lengkap

Pengertian Puisi Satire

Pernahkah anda mendengar kata satire? mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing lagi mendengar kata satire. kita sering menafsirkan kata satire sebagai sebuah kata sindiran. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan minin jelaskan pengertian puisi satire yang sesungguhnya.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) satire/sa·ti·re/ n 1 Sas gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang; 2sindiran atau ejekan.
Jadi cukup jelas jika kita menelisik lebih dalam mengenai pengertian satire dari KBBI bahwa pada intinya satire adalah ungkapan sindiran terhadap suatu keadaan tertentu ataupun sindiran untuk seseorang. Supaya lebih mudah untuk memahami apa itu puisi satire, berikut ini akan mimin berikan beberapa contoh puisi satire.

Bunuh Koruptor Bejat

5 Contoh Puisi Satire

#Contoh Puisi Satire 1

DI NEGERI AMPLOP

Oleh : (Gus Mus)

Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya “malu”

Samson tersipu – sipu, rambut keramatnya ditutupi topi “rapi – rapi”

David coverfil dan rudini bersembunyi “rendah diri”

Entah, andai Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya

Amplop – amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur

Hal – hal yang tak teratur menjadi teratur

Hal – hal yang teratur menjadi tak teratur

Memutuskan putusan yang tak putus

Membatalkan putusan yang sudah putus

Amplop – amplop menguasai penguasa

Dan mengendalikan orang – orang biasa

Amplop – amplop membeberkan dan menyembunyikan

Mencairkan dan membekukan

Mengganjal dan melicinkan

Orang bicara bisa bisu

Orang mendengar bisa tuli

Orang alim bisa nafsu

Orang sakti bisa mati

Di negri amplop, amplop – amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja.

#Contoh Puisi Satire 2

NEGERIKU

Oleh : (Gus Mus)

Mana ada negri sesubur negeriku

Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tehu dan jagung tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung

Prabot – prabot orang kaya di dunia dan burung-burung indah piaraan mereka berasal dari hutanku              

Ikan – ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku

Emas dan perak, perhiasan mereka digali dari tambangku

Air bersih yang mereka minum bersumber dari keringatku

Mana ada negri sekaya negeriku

Majikan – majikan bangsaku memiliki buruh – buruh mancanegara

Brangkas – brangkas Bank ternama dimana – mana menyimpan harta – hartaku

Negriku menumbuhkan konglomera dan mengikis habis kaum melarat

Rata – rata pemimpin negriku dan handai tolannya terkaya didunia

Mana ada negri semakmur negeriku

Penganggur – penganggur diberi perumahan, gaji dan pensiunan setiap bulan

Rakyat – rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan

Rampok – rampok di beri rekomendasi, dengan kop sakti instansi

Maling – maling di beri konsensi

Tikus dan kucing dengan asik berkorupsi

#Contoh Puisi Satire 3

SEMENJAK HARI ITU

Oleh : (Malik Abdul)

Di depanku kau menangis tersedu tak tahu malu

Kata-katamu membujukku penuh rayu  

Merengek memintaku untuk kembali 

Namun, aku tetap pada pendirianku

Janji busukmu begitu nyata

Segala resah menyatu buatku ragu

Melihat kau berdua sedang bercumbu

Tanpa rasa bersalah kau mancampakkanku

Kini hari tinggal sepi

Menyisakan hari penuh haru

Semenjak kau dustai kisah cinta berdua 

Rasakan sendiri kini 

Air matamu tak akan pernah berarti 

Untuk menghapus dosa yang kau lakukan sendiri

Selamat tinggal melati.

 

#Contoh Puisi satire 4

KEPADA PARA PEMULUNG DESAKU

Oleh : (Malik Abdul)

Desaku terpencil di sudut sungai yang sepi

Masyarakat hidup pas-pasan tetapi penuh gaya

Seakan tak mau kalah dengan kemajuan kota

Mereka tak tahu apa itu halal

Mereka tak tahu apa itu haram

Sambil menyelam minum air

Sambil memulung mereka mencuri

Sambil mencuri mereka menari

Sambil menari mereka mengotori diri

Tiada satu pun cita-cita yang mulia diantara mereka

Karena mereka tiada mengenalnya

Ajaran agama pun tidak mereka anggap benar

Lantas siapakah yang harus berbenah

Para kiyai kah?

Atau mereka?

 

#Contoh Puisi Satire 5

PENCOPET METROPOLITAN

Oleh : (Malik Abdul)

Siang hari di bandara Soekarno-Hatta

Mentari terik menyengat kulit seorang kakek tua

Dia berjalan gontai membawa tas yang penuh dengan pakaian

Terlihat binar matanya menampakkan kerinduan akan kampung halaman

Kepada isteri, anak, dan cucu-cucunya

Bahunya nampak terbungkuk menopang segala beban

Beban yang ada di dalam tasnya

Juga beban akan tanggung jawabnya

Dari arah berlawanan seorang pemuda berjalan cepat

Seperti terburu oleh nafsu sesaat

Tanpa perduli bahwa semua itu perbuatan jahat

Brakk…!

Tampak ia menabrak seorang kakek tua

Sang kakek terjatuh

Tangannya yang ringkih menopang tubuhnya yang terpelanting

Kerumunan orang apatis hanya menyaksikan

Sejenak terhenti dari langkah mereka

Namun seakan peristiwa itu hanyalah hal kecil

Dalam sekejap si pemuda itu terbangun

Dengan gerak cepat ia menyingkapkan dompet coklat didalam jaket

Na’as…

Sang kakek kehilangan segalanya

Semua kerja kerasnya lenyap dalam sekejap

Nampak kesedihan dari mata yang teduh itu

Dari kejauhan ia hanya menyaksikan

Si pemuda itu berlalari sangat kencang

Hingga tiba di seberang jalan

Ia hendak melawan arah untuk terus berlari

Namun sebuah buss melaju kencang hingga tiada mampu ia hindari

Saatnya tibalah karma berujung mati!

 

Nah, demikianlah 5 Contoh Puisi Satire dan Pengertiannya Lengkap. Semoga dapat membantu anda dalam memahami puisi dan keanekaragaman bentuknya, Sekian dari mimin semoga bermanfaat.

BACA JUGA :

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.